Ruvan, duduk di atas Sobor—makhluk mutasi terbesar di rombongan itu—mengamati hutan di sekitarnya dengan mata tajam. Gerak-gerik Sobor semakin gelisah, matanya berkilat sambil mendengus rendah, menggerakkan kepalanya seperti mencium bahaya. Ruvan sudah cukup berpengalaman untuk memahami isyarat ini. Ada sesuatu, atau seseorang, yang sedang mengintai mereka.
Suku Monrest telah melakukan ulang ritual pengorbanan untuk mendapatkan petunjuk dari leluhur, namun jumlah para penduduk yang di korbankan, ternyata tidak sesuai dengan harapan. Kegagalan terjadi di beberapa tempat, terutama karena para penduduk sudah mendengar kemarahan suku Monrest dan rencana mereka, sehingga banyak penduduk yang mengungsi ke tempat-tempat tersembunyi.
Damon, yang mendapatkan informasi keberadaan suku Sinto dari mata-matanya, segera memerintahkan Ruvan untuk menangkap mereka sebagai pengorbanan.  Selain itu, Damon mendapatkan informasi penting mengenai keberadaan orang asing selain Lynx. Dua orang wanita, yang terlihat berbeda cara berbicara dan penampilannya, berada di suku Sinto, sehingga Damon memutuskan menangkap mereka untuk di jadikan sarana ritual pengorbanan.
Ruvan yang mendapatkan peringatan dari makhluk mutasi tunggangannya segera mempelajari keadaan sekitar tanpa menimbulkan kecurigaan. Dari sudut matanya, Ruvan yang memiliki mata tajam dan terlatih dapat melihat beberapa orang di kejauhan sedang mengintai mereka.
"Siapa mereka? Beraninya mengintai. Tidak akan aku biarkan." Batin Ruvan.
"Anak buah kita harus bergerak sekarang," gumamnya pelan, lalu menegakkan tubuhnya di atas pelana Sobor. Ia melambaikan tangan, memberi isyarat isyarat cepat kepada tiga pemimpin regu.
Bahasa isyarat Ruvan begitu efisien, tidak ada satu pun dari rombongannya yang mengeluarkan suara. Para pemimpin regu menerima perintah itu dengan anggukan tegas, lalu segera menyampaikan kepada anggota masing-masing.
Ketegasan Ruvan dalam memimpin dan melatih mereka, serta peperangan melawan para suku yang melawan, dan menundukkan berbagai makhluk mutasi, membuat suku Monrest memiliki kemampuan bertarung yang baik dan terorganisir. Ruvan memberikan isyarat kepada pemimpin regu untuk membagi rombongannya menjadi tiga kelompok dan memisahkan diri.
Regu yang dipimpin oleh salah satu komandan terpercaya Ruvan bergerak ke sisi kiri hutan. Sementara regu satunya bergerak ke sisi kanan hutan, dan sisanya, regu tersebut di pimpin oleh Ruvan langsung, tetap melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka bergerak secara alami seolah mereka sedang melanjutkan perjalanan. Tidak ada tanda-tanda mereka sedang bersiaga.
Setelah merasa berjalan cukup jauh, pimpinan regu kiri mengajak tim mereka kembali dan berusaha mengambil posisi tinggi di balik bukit kecil, bersembunyi di antara dedaunan tebal. Tujuannya adalah mengepung musuh dari samping kiri jika ada tanda-tanda keberadaan mereka.
Sementara Regu Kanan melakukan hal yang sama. Setelah berjalan cukup jauh, dengan langkah hati-hati, mereka berjalan kembali menyusuri jalur berbatu dan menyelinap di balik pepohonan yang lebat. Regu ini membawa senjata yang lebih berat seperti tombak besar dan jaring kuat untuk memastikan musuh tidak dapat melarikan diri.
Ruvan, beserta pemimpin regu sisanya beserta anggota tetap di jalur utama. Dengan lima makhluk mutasi besar, mereka tampak seperti rombongan yang utuh, bergerak maju seolah tidak sadar akan ancaman. Ruvan memimpin rombongan ini dengan santai, tapi setiap pergerakannya penuh perhitungan. Ruvan sengaja membuat mereka terlihat lebih lemah untuk memancing musuh keluar dari persembunyian. Ruvan sudah mengatur agar jika musuh muncul, regu ini akan berbalik dan mengepung musuh bersama regu kiri dan kanan.
Ruvan menepuk kepala Sobor, berbicara pelan dalam bahasa sukunya. "Tenang, Sobor. Mereka tidak akan bisa menyentuh kita." Makhluk besar itu mengangguk, seolah mengerti perintahnya.
"Teruslah maju," bisik Ruvan kepada regu utama. "Jangan ubah langkah kalian. Kita harus membuat mereka berpikir kita tidak sadar."
Di kiri dan kanan, regu-regu pendukung mulai mengambil posisi mereka dengan hati-hati. Mereka bergerak seperti bayangan, senyap di antara pepohonan dan bebatuan. Beberapa prajurit sudah memasang jebakan di jalur tertentu—seperti jaring yang bisa dijatuhkan dari atas pohon dan perangkap kawat yang terbuat dari serat tumbuhan kuat.
Di jalur utama, Ruvan terus memimpin dengan tenang. Namun, matanya tidak berhenti mengawasi sekeliling. Ia tahu bahwa musuh yang cukup cerdik akan memantau mereka dari kejauhan, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Di atas pohon, Kane memantau setiap gerakan rombongan itu. Awalnya, dia melihat kelompok itu bergerak sebagai satu kesatuan. Namun, setelah beberapa menit, dia mulai menyadari sesuatu yang aneh.
"Mereka terpecah menjadi tiga dan mengambil arah yang berbeda, " gumam Kane.
Dalam hati, Kane merasa kesal karena tidak dapat menggunakan perangkatnya yang terhubung dengan satelit. Dengan perangkat tersebut, mereka terbiasa memantau posisi musuh, dan  dengan perangkat itu, seharusnya dia bisa mendeteksi dan memantau pergerakan ketiga kelompok tersebut dengan mudah.
"Dua kelompok keluar dari jalur utama." Kata Kane memberi informasi kepada timnya di bawah.
"Apa maksudmu, Komandan?" tanya Freya dari bawah.
"Dua regu diantara mereka memisahkan diri ke arah kiri dan kanan. Berbeda dengan arah yang kita tuju. Sementara satu regu bersama makhluk besar tetap berjalan ke jalur yang sama dengan yang kita tuju." Jawab Kane.
"Komandan, apakah mereka menyadari kehadiran kita? Apakah ini jebakan untuk kita?" Tanya Seraphina dengan khawatir.
"Apakah mereka ingin mengepung kita?" tanya prajurit lainnya dengan wajahnya tegang.
"Apa yang kamu pikirkan Seraphina? Penduduk lokal ditempat ini pasti lemah dan tidak mengenal strategi dalam berperang. " Kata Darius yang juga memantau dari bawah menggunakan perangkat miliknya. "Lihat saja, senjata mereka sangat primitif. Kapaknya...Dari batu..." Katanya sambil tertawa."Aku akan menghancurkan mereka tanpa sisa dengan senjataku. Akan kubuat mereka mengalami mimpi buruk."
"Darius, jangan pernah remehkan musuhmu!" bentak Kane.
"Maaf komandan. Mereka bergerak secara alami, tidak terlihat adanya strategi. Aku yakin mereka memang sudah berencana untuk berpisah karena beda tujuan di tempat itu." Jawab Darius dengan nada tetap meremehkan. Baginya, teknologi yang digunakan penduduk lokal sangatlah primitif dan dapat dihancurkan dengan mudah.
"Bagaimana sekarang komandan?" tanya salah satu prajurit.
Kane turun dari pohon dan bergabung kembali dengan anggotanya. "Kita lanjutkan perjalanan. Fokus kita menemukan Milo dan segera pergi dari tempat ini," katanya dengan tegas. "Kita bukan mengikuti mereka, tetapi arah dan tujuan kita sama dengan mereka. Tetap waspada!" Kata Kane sambil berjalan dan memastikan posisi mereka dengan peta yang di perangkat.
"Siap komandan!" Mereka menjawab serentak dan mengikuti langkah komandan mereka menuju ke arah yang di tunjukkan oleh perangkat mereka saat masih terhubung dengan satelit.
Kane memutuskan untuk mengikuti jalur rombongan utama yang dipimpin Ruvan. Kane merasa mengikuti mereka akan mempermudah mereka menemukan jalur yang tepat menuju tempat tujuan. Selama perjalanan, Kane sudah melihat bahwa rombongan yang mereka ikuti, tanpa sengaja membuka jalan dan menghancurkan penghalang alami yang ada di sepanjang perjalanan. Ia memperhatikan setiap langkah mereka dengan cermat, yakin bahwa kelompok ini akan membawanya langsung ke tujuan yang sama, tempat di mana Milo berada.
Namun, perjalanan itu tidak berlangsung lama sebelum hujan panah meluncur dari balik pepohonan, menargetkan pasukan Kane.
"Panah! Berlindung!" teriak salah satu prajurit Kane.
Sebuah panah menembus bagian bawah helm Garin di barisan belakang, membuatnya jatuh seketika. Darah mengalir deras dari luka di lehernya.
"Garin!" teriak Lyra yang berada di dekatnya. Dia berusaha menangkis serangan yang datang dengan perisai, sehingga tidak dapat menolong Garin.
Kane mengangkat perisai kecil yang terintegrasi di armor lengannya, memantulkan beberapa panah yang mengarah padanya. "Balas serangannya!" perintahnya dengan nada tegas.
Kane dan timnya tidak menduga jika posisi keberadaan mereka sudah diketahui. Rombongan yang memisahkan diri ternyata sudah menyiapkan jebakan. "Strategi mereka tidak bisa dianggap ringan. Ternyata mereka sangat ahli mengatur strategi dan perangkap." Batin Kane.
Senjata laser di tangan prajurit Kane mulai menyala, melesatkan tembakan dengan suara mendesis yang menusuk telinga. Ledakan kecil terjadi setiap kali laser menghantam pepohonan atau tanah. Beberapa panah berhenti meluncur ketika salah satu regu pasukan Ruvan, yang bersembunyi di pepohonan, terkena tembakan langsung.
